disini qta akan berbagi pengetahuan dan kabar tentang indramayu kota mangga

Thursday, May 28, 2009

Pertamina Balongan






Kilang Minyak Balongan merupakan sumber minyak dan gas yang terletak 6 Km, dari pusat Kota Indramayu yang dikelola oleh Pertamina UP.VI. Sebagaimana proses pengolahan minyak mentah menjadi bensin, solar, minyak tanah dan hasil lainnya adalah merupakan daya tarik untuk melakukan wisata IPTEK ke Indramayu.
Keberadaan potensi minyak dan gas di Indramayu telah diprediksikan oleh Raden Aria Wiralodra sebagaimana tercantum dalam Prasasti Aria Wiralodra yang di tulis dalam Bahasa Jawa, sebagai berikut:
“Nanging benjing Allah nyukani, kerahmatan kang linuwih, Darma Ayu mulih harja, tan ana sawiji pertelanya. Yen wonten taksana nyabrang kali Cimanuk, sumur kejayaan deres mili, Delupak murub tanpa patra, sadanya pan mukti malih, somahan lawan prajurit, rowang lawan priagung, samya tentrem atinya, sada haja rumuli, ing sekehing Negara pada harja”.
Yang Artinya:
“Akan tetapi kelak nanti Allah melimpahkan, rahmat-Nya yang melimpah, Darma Ayu kembali makmur, tak ada satu hambatan tandanya. Jika ada ular menyebrang Kali Cimanuk, sumur kejayaan mengalir deras, lampu menyala tanpa minyak, semua kembali hidup makmur, manunggal dengan prajurit, membantu penguasa, hidup aman dan tentram, semua kembali makmur, seluruh Negara hidup makmur”.



Wednesday, May 27, 2009

Masjid Agung Indramayu


Masjid Agung merupakan karya arsitek beretnis Cina. Masjid Agung Indramayu ini terletak di pusat kota yang berdampingan dengan kantor Pemerintahan Daerah Indramayu.



Alun alun Indramayu


Alun-alun
Alun-alun merupakan Pusat Kota atau biasa dikenal Alun-alun, sekaligus sebagai pusat Pemerintahan Daerah yang merupakan centre point Kota Indramayu. Pada sore hari terutama malam minggu kawasan ini menjadi ramai di kunjungi oleh kawula muda.



Tuesday, May 26, 2009

Tugu Mangga


Tugu Mangga terletak di persimpangan lima jalan masuk Kota Indramayu dari arah Jakarta. Tugu ini menggambarkan bahwa kota Indramayu sebagai penghasil buah Mangga yang khas, yang menjadi trade mark Indramayu.


Tugu Kijang


Tugu Kijang berdiri tegar dipersimpangan jalan masuk Kota Indramayu dari arah Cirebon, merupakan gambaran sejarah dari Kijang Emas yang menuntun dan menunjukkan arah letak pedukuhan di muara kali Cimanuk yang menjadi cikal bakal Kabupaten Indramayu.


Pantai Eretan


Pantai Eretan
Pantai di pesisir eretan jalur pantura ini dulunya hanya sebuah pantai yang biasa bagi penduduk lingkungan sekitarnya, namun seiring kurang ter urusnya pantai tirtamaya yang semakin di makan abrasi, pantai ini mulai di minati oleh masyarakat indramayu beberapa tahun belakangan ini. seiring dengan semakin bertambahnya pengunjung di pantai ini terutama hari libur, pantai ini mulai di lirik oleh pengusaha2 restoran,maupun pedagang2 kecil yang menyediakan makanan dan minuman, karena letaknya yang strategis di jalur pantura sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan sambil menikmati semilirnya angin dan suara ombak di pantai ini.


Wisata Laut Indramayu continued

Pulau Gosong

Selain Pulau Biawak, kawasan ini juga menawarkan kecantikan Pulau Gosong dan Pulai Candikian. Pulau Gosong berjarak tempuh sekitar setengah jam dari Pulau Biawak. Pulau Candikian juga berjarak 30 menit dari Pulau Biawak. Berbeda dengan Pulau Biawak, kedua pulau ini tak berpenghuni. Bahkan, Pulau Gosong yang sebenarnya lebih luas dari Pulau Biawak hanya tersisa beberapa meter persegi. Pulau itu sering digunakan untuk bertapa dengan tujuan mencari kekayaan dan sejenisnya. Pulau ini "hilang" akibat pengerukan untuk pembangunan Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan Exor I sekitar tahun 1980–an.
Melihat potensi alamnya, kawasan ini bisa memuaskan para pemburu kenikmatan wisata. Pulau cantik itu saat ini benar–benar masih perawan. Untuk perjalanan sekitar empat jam dari Indramayu ke lokasi itu, misalnya, belum tersedia perahu khusus. Kalaupun menyewa, pengunjung harus merogoh kocek sekitar Rp 750.000 untuk perahu nelayan berkapasitas sekitar sepuluh orang.

Selain itu, juga belum ada dermaga yang memudahkan pengunjung mencapai bibir pantai saat air pasang. Selain itu, juga belum ada rumah–rumah peristirahatan yang bisa disewa wisatawan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu Abdul Hakim mengatakan, Pemerintah Kabupaten kesulitan mengembangkan kawasan itu. Terutama, katanya, tidak ada daya tarik wisata lain yang bisa ditawarkan sebagai pendamping Pulau Biawak. Selain itu, kawasan tersebut benar–benar belum tersentuh sehingga investor pasti enggan mengingat besarnya biaya yang harus ditanamkan.

Meski demikian, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Indramayu sudah berencana menggarap potensi itu. Saat ini telah tersedia anggaran Rp 1,6 miliar dari APBN dan Rp 375 juta dari APBD II. "Pemerintah provinsi juga telah membantu saat identifikasi potensi," kata Hakim.

Ia berharap, setelah pemerintah membuka "isolasi", investor akan tertarik mengembangkan Pulau Biawak. "Tentunya dengan rambu–rambu yang akan membatasi upaya komersialisasi agar tetap terjaga untuk konservasi," kata Hakim lagi. Pemerintah Kabupaten Indramayu, katanya, telah menyiapkan peraturan daerah untuk itu.


Wisata Laut Indramayu









Pulau Biawak salah satu wisata laut indramayu
Berbeda dengan kawasan selatan, wilayah laut utara Jawa tak identik dengan wisata. Kalaupun ada titik–titik yang dijadikan tempat wisata, pemandangan yang ditawarkan tetap tak seindah kawasan laut selatan.

Seperti itu juga kondisi wisata laut di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pesisir Indramayu tidak memberikan tawaran serupa pantai di Kabupaten Sukabumi atau Garut yang sama–sama termasuk wilayah Jawa Barat. Bahkan, pesisir sering kali merupakan daerah kantong–kantong kemiskinan yang ditandai dengan rumah–rumah dan lingkungan yang kumuh.

Namun, kunjungilah Pulau Biawak. Pesona alam merupakan anugerah Tuhan bagi pulau yang berjarak sekitar 40 kilometer dari pantai utara Indramayu ini. Airnya bening dan pasirnya putih seperti kebanyakan pantai di kawasan selatan. Daratan seluas 120 hektar ini juga kaya dengan tanaman bakau yang hijau dan rapat dipandang dari ketinggian.

Sedikitnya ada dua nama lain yang lazim digunakan untuk menyebut Pulau Biawak, yakni Pulau Rakit dan Pulau Menyawak. Karena itu, Anda tak perlu berdebat ketika orang menyebut nama selain Pulau Biawak. Petugas menara suar yang tinggal di sana, Slamet Riyanto, mengatakan, sebelumnya ada lagi sebutan untuk Pulau Biawak, yakni Pulau Bompyis, yang merupakan nama warisan penjajah Belanda. "Kalau tidak salah, nama Pulau Rakit diubah menjadi Pulau Biawak pada tahun 1980–an," kata Slamet yang bertugas di sana bersama seorang temannya.

Tulisan nama Bompyis masih tersisa pada papan di ruangan genset—alat yang bisa menghasilkan listrik. Genset itu digunakan untuk penerangan permukiman petugas dan, terutama, untuk menyalakan lampu suar. Lampu penunjuk arah bagi para pelaut itu terletak pada menara setinggi 65 meter. Bangunan tersebut juga merupakan "warisan" Belanda, yakni dibangun pada tahun 1872. Di bagian dalam menara, yang berbentuk silinder, terdapat tangga memutar dengan keseluruhan anak tangga berjumlah 240. Butuh keberanian untuk menaiki tangga tersebut. Namun, jika berhasil mengalahkan rasa takut dalam diri Anda, di puncak menara Anda akan menemukan pemandangan hutan bakau dan laut yang mempesona.

Habitat biawak

Sesuai dengan namanya, pulau ini merupakan habitat biawak (Varanus salvator). Konon reptilia itu sudah ada sejak pulau tersebut didatangi manusia pada lebih dari satu abad yang lalu. Belum ada penghitungan yang memberikan data pasti tentang jumlah binatang itu. Namun, jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ekor. Mereka hidup di rawa–rawa dan semak–semak hutan bakau yang keberadaannya mendominasi daratan itu.

Biawak–biawak tersebut tidak jinak. Namun, "mereka tidak menyerang kalau tidak kita ganggu," kata Dulrokhim (61), nelayan Indramayu yang tengah berada di sana. Dulrokhim menambahkan, biawak biasanya juga mampir ke kawasan rumah penjaga menara suar, terutama saat ada nelayan yang singgah membawa ikan. "Mungkin bau amis ikan itu yang mengundang mereka datang," kata Dulrokhim. Meski tidak jinak, lanjutnya, ada beberapa biawak yang tak segera lari kalau didekati. "Mungkin sudah terbiasa. Jadi, tidak takut lagi terhadap manusia," kata Dulrokhim lagi.


Namun, tak hanya biawak yang merupakan kekayaan fauna lingkungan Pulau Biawak. Banyak juga burung yang melintasi angkasa pulau tersebut, antara lain cangak laut (Ardea sumatrana), trinil pantai (Bubulcus ibis), dan burung udang biru (Alcedo Caerulenscens).

Lautnya yang bening juga merupakan surga bagi ratusan jenis biota laut dengan bentuk dan warna yang indah. Kondisi terumbu karang pada kedalaman tiga meter masih cukup bagus. Berdasarkan data di Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, terdapat 95 jenis ikan yang mewakili 30 famili, antara lain ikan zebra (Dendrichirus zebra), kupu–kupu (Chaetodon chrysurus), dan merakan (Pterois valiteus). Dengan menyelam, ikan–ikan cantik itu dapat dilihat mulai dari kedalaman lebih kurang satu meter.

Sayangnya, pada tahun 2004 keindahan ini pernah tercemar oleh lapisan minyak mentah. Tidak diketahui dari mana asal minyak mentah tersebut. Diduga, bahan pencemar itu berasal dari kapal tanker yang sering melintasi kawasan perairan Indramayu. "Waktu itu, terumbu karang banyak yang mati," kata Kepala Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Indramayu Koko Sudeswara.



Monday, May 25, 2009

DAYAK LOSARANG INDRAMAYU COMUNITY continued






DAYAK LOSARANG INDRAMAYU COMUNITY






Aktifitas dayak losarang indramayu



Friday, May 22, 2009

Sejarah Indramayu

Sejarah putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bagelen Jawa Tengah bernama Raden Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit, sedang Tumenggung Gagak Singalodra sendiri adalah keturunan Nyi Ageng Bagelen yang menjadi salah satu barisan juru wisik untuk membaca masa depan di lingkaran kerajaan Mataram,dengan demikian Raden Aryo Wiralodra bukan orang sembarangan, ia ditugaskan dalam "misi khusus" membebaskan dari kekuasaan Padjajaran oleh kerajaan Mataram untuk membuka daerah di lembah Cimanuk, dalam tapa baratanya di kaki Gunung Sumbing mendapat wangsit.
"Hai Wiralodra apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah kearah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana". Demikianlah bunyi wangsit itu.

R. Wiralodra ditemani Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana. Tokoh-tokoh lain dengan pendiri pedukuhan dimaksud adalah Nyi Endang Darma yang cantik dan sakti, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat putra oleh Putri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati. Ki Buyut Sidum / Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Pajajaran, Pangeran Guru, seorang pangeran dari Palembang yang mengajarkan Kanuragan dengan 24 muridnya.

Pedukuhan tersebut berkembang dan diberi nama "Darma Ayu" oleh R. Wiralodra yang diambil dari nama seorang wanita yang dikagumi karena kecantikan dan tkesaktiannya "Nyi Endang Darma", serta dapat diartikan "Kewajiaban Yang Utama" atau "Tugas Suci".

Pedukuhan Cimanuk yang diberi nama "Darma Ayu" yang kemudian berubah menjadi "Indramayu", setelah terbebas dari kekuasaan Pajajaran pada tahun 1527, diproklamirkan berdirinya oleh R. Wiralodra pada hari Jumat Kliwon tanggal 1 Muharram 934H atau 1 Sura 1449 dan jatuh pada tanggal 7 Oktober 1527. Titimangsa tersebut resmi sebagai Hari Jadi Indramayu.

Setelah 1527, Daerah Indramayu terbagi dalam tiga propinsi meliputi :

Propinsi Singapura, meliputi sebelah timur sampai Sungai Kamal. Propinsi Rajagaluh, meliputi daerah tengah sampai Jati tujuh. Propinsi Sumedang, meliputi bagian barat sampai Kandanghaur.

Tahun 1681, mulai dikuasai kompeni.

Zaman pemerintahan Daenles (1806 - 1811) daerah sebelah barat sungai Cimanuk dimasukan dalam prefektur Cirebon Utara. Pada masa ini berada dalam kekuasaan kerajaan Demak. Tahun 1546 menjadi bagian kesultanan Cirebon.

Tahun 1615 sebelah timur Sungai Cimanuk menjadi bagian keultanan Cirebon dan bagian baratnya termasuk dalam wilayah kerajaan Mataram.

Tahun 1681, mulai dikuasai kompeni. Zaman pemerintahan Daenles (1806 - 1811) daerah sebelah barat sungai Cimanuk dimasukan dalam prefektur Cirebon Utara. Pada zaman kompeni menjadi ajang masuk pertempuran segitiga antara kompeni, Mataran dan Banten. Tahun 1706, Indramayu jatuh kedalam kekuasaan kompeni Belanda seluruhnya seperti halnya dengan daerah-daerah lain, Indramayu mempunyai perjalanan yang sama berada dalam kekuasaan penjajahan.(*) sumber: jabar.go.id


Buah Mangga khas Indramayu




mangga cengkir khas indramayu
Indramayu dikenal juga dengan sebutan “Kota Mangga’ di jawa barat Indonesia, karena mangga indramayu terkenal dengan rasanya yang manis dan empuk. Belum diketahui kenapa buah mangga dari indramayu ini lebih enak daripada buah mangga dari daerah lain di Indonesia, mungkin di karenakan geografis indramayu itu sendiri yang tropis dan panas, sehingga bisa menghasilkan buah mangga yang rasanya tidak ada tandingannya dengan mangga dari daerah lainnya.

Terdapat bermacam2 buah mangga dari indramayu, diantaranya mangga cengkir, mangga gedong (gincu), mangga harumanis, mangga golek, manga gajah, mangga manalagi, mangga nanas, mangga remucu, mangga bapang dll. Tapi Cuma dua macam yang jadi khas dari indramayu yaitu mangga cengkir dan mangga gedong (gincu), 2 macam mangga ini mempunyai keistimewaan masing2, mangga cengkir misalnya selain rasanya manis, buahnya tebal dan empuk. Mangga gedong (gincu) beda lagi, mangga ini terkenal dengan bentuknya yang bulat dan merah di tambah baunya yang sangat harum, sehingga orang akan sangat tertarik untuk dating kembali ke indramayu……..

JIKA ANDA INGIN MERASAKAN ENAKNYA MAKAN BUAH MANGGA

INDRAMAYU LAH TEMPATNYA…….SELAMAT MENCOBA!!!!!!!!!!



Thursday, May 21, 2009

Tari Topeng Indramayu

Pengrajin Batik Indramayu


Dayak Indramayu is the one that what we called them. They're people from Karimun Losarang village, Indramayu, West Java. However the real name of these people is Dayak Hindu Budha Bumi Segandu tribe.
Eventhough they're using name of Dayak, however they're not having any relation to Kalimantan's Dayak tribe.
Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Community in Indramayu is also stigmatized in a
very concerning way. The community is described as a community that rebels against
State regulations such as not having ID Card, not wearing helmet when riding,
refusing to inform authorities when they are going to hold certain ritual or ceremony.

They are even accused of a group who mix the teachings of several official religions.
On 26 April 2007, this community was tried by Government officials such Council of
Indonesian Ulama (MUI), Department of Religious Affairs, Police, Military, and
Prosecutors to explain all their daily activities. The point is that the Government is
forcing Dayak Indramayu community to obey and follow all rules in Indonesia.